Gambar Masa Penjajahan

Gambar Masa Penjajahan

Penyebab Spanyol Singgah di Indonesia

Penjajahan Spanyol di Indonesia bukan terjadi tanpa sebab. Pada sekitar abad ke-15 Masehi, bangsa Eropa sudah mulai berlomba dalam hal pelayaran untuk menemukan sebuah dunia yang baru. Tujuan utama dari pelayaran mencari daratan atau daerah yang baru itu adalah untuk menemukan wilayah yang menghasilkan rempah-rempah.

Di Eropa rempah-rempah adalah komoditas utama yang memiliki nilai yang tinggi. Terlebih fungsi utama rempah-rempah tersebut adalah sebagai bahan untuk mengawetkan makanan. Pasalnya, pengawetan makanan menjadi penting untuk masyarakat Eropa guna mencegah kelaparan yang mungkin akan terjadi saat musim dingin berlangsung.

Penjelajahan dan ekspedisi yang dilakukan oleh orang Eropa termasuk Spanyol ini setidaknya disebabkan oleh 2 peristiwa politik yang penting. Peristiwa tersebut adalah kekalahan kerajaan Katolik saat Perang Salib dan jatuhnya Konstantinopel kepada kekaisaran Turki Usmani.

Saat terjadi Perang Salib, jalur perdagangan antara Eropa dan Asia juga menjadi berantakan karena perang yang terjadi di perbatasan dua benua tersebut. Selain itu, keadaan ekonomi Eropa pun terpuruk karena adanya perang tersebut. Kas kerajaan Eropa menjadi menyusut karena besarnya biaya perang yang harus dikeluarkan.

Dua abad setelah perang itu selesai, kota Konstantinopel (sekarang menjadi Istanbul) jatuh ke tangan imperium Turki Usmani Ottoman. Hal ini pun tentu saja menjadi kabar yang buruk bagi kerajaan-kerajaan Eropa. Sebab, kota Konstantinopel tersebut menjadi titik penting dalam rute perdagangan antar benua Eropa dan Asia.

Jatuhnya kota Konstantinopel ini menjadi salah satu faktor utama dari terjadinya pelayaran bangsa Eropa ke benua lain termasuk Asia dan Indonesia. Pasalnya, semenjak Konstantinopel dikuasai oleh Turki Usmani, masyarakat Eropa menjadi kesulitan untuk mencari jalan atau akses perdagangan ke Asia. Kaisar Turki Usmani, Sultan Muhammad II, juga melarang pedagang Eropa untuk masuk ke kota Konstantinopel.

Padahal kota tersebut menjadi pintu masuk utama perdagangan Eropa dengan orang Asia, khususnya para pedagang rempah-rempah. Hal itulah yang menyebabkan Eropa mengerahkan pelautnya untuk berlayar dan mencari jalur perdagangan baru sekaligus menemukan daerah penghasil rempah-rempah.

Dari negara-negara Eropa tersebut, Spanyol dan Portugis menjadi salah satu negara yang sangat aktif dalam merintis pelayaran dan melakukan ekspedisi dalam menemukan dunia baru itu. Tetapi, keduanya sempat berselisih dalam jalur pelayaran yang akan dilalui.

Pada 7 Juni 1449, akhirnya disepakati Perjanjian Tordesillas oleh Spanyol dan Portugis. Perjanjian tersebut berisi tentang dibaginya dunia menjadi dua wilayah kekuasaan untuk Spanyol dan Portugis. Wilayah tersebut dibagi berdasarkan garis yang membentang dari Kutub Selatan ke Kutub Utara.

Penjajahan Spanyol di Indonesia dimulai saat mereka berhasil menginjakkan kakinya di Tidore, Maluku. Saat itu, Spanyol singgah di Maluku setelah berlayar dari Filipina ke arah selatan melewati Kalimantan Utara.

Kedatangan bangsa Spanyol di Indonesia ini disambut baik oleh masyarakat Tidore. Tetapi, mereka justru menjadi ancaman bagi Portugis yang sudah lebih dahulu menduduki wilayah Maluku. Perselisihan antara dua bangsa Eropa itu pun tak dapat dihindari, bahkan keduanya sempat terlibat perang dengan memanfaatkan permusuhan yang terjadi pada kerajaan lokal, Ternate dan Tidore.

Untuk mengakhiri perselisihan tersebut, akhirnya dibuat kesepakatan antara Spanyol dan Portugal melalui sebuah perjanjian bernama perjanjian Saragosa. Dari perjanjian ini, akhirnya Spanyol pergi dari Maluku dan Portugis dapat terus menetap di Maluku. Dengan perginya Spanyol dari Maluku, berakhir juga penjajahan Spanyol di Indonesia.

Itulah tadi pembahasan mengenai penjajahan spanyol di Indonesia. Mulai dari awal mula, tujuan, penyebab, hingga akhirnya Spanyol tiba di Indonesia. Semoga bermanfaat untuk membantu #SahabatTanpaBatas belajar, ya!

Jika kamu ingin mencari berbagai macam buku tentang sejarah, maka bisa mendapatkannya di gramedia.com. Untuk mendukung Grameds dalam menambah wawasan, Gramedia selalu menyediakan buku-buku berkualitas dan original agar Grameds memiliki informasi #LebihDenganMembaca.

Bagaimana penjajahan Spanyol di Indonesia? Bagaimana awal mulanya Spanyol bisa datang ke Nusantara? Apa tujuan dan penyebab kedatangan Mereka? Informasi di bawah ini akan menjawabnya.

Garis waktu sejarah Indonesia terjadi dalam rentan waktu yang sangat lama dan panjang. Bahkan, sejarah ini dimulai sejak masa prasejarah berdasarkan pada penemuan manusia purba berjenis  Homo Soloensis, Meganthropus Palaeojavanicus, Homo Wajakensis, dan lainnya pada sekitar 500.000 tahun lalu.

Periode waktu dalam sejarah bangsa Indonesia ini juga dapat dibagi menjadi beberapa era. Era tersebut adalah era pra kolonial, era kolonial, era kemerdekaan, era Orde Baru, dan era reformasi. Era pra kolonial adalah suatu era dimana munculnya kerajaan Hindu, Budha, dan Islam yang tersebar di pulau Jawa dan Sumatera karena adanya interaksi lain dari perdagangan yang terjadi pada masing-masing daerah.

Era kolonial adalah era masuknya bangsa Eropa ke Indonesia karena ingin menguasai rempah-rempah sebagai komoditas utama Nusantara. Keinginan orang-orang Eropa yang tinggi terhadap rempah-rempah ini menyebabkan penjajahan pada bangsa pribumi. Diantaranya adalah penjajahan Spanyol di Indonesia dan penjajahan yang dilakukan oleh Belanda selama 3,5 abad lamanya sejak abad ke-17 hingga abad ke-20 masehi.

Era selanjutnya, yaitu era kemerdekaan yang terjadi sejak dibacakannya naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 oleh Presiden Soekarno. Sedangan, era Orde Baru adalah masa setelah jatuhnya Presiden Soekarno pada tahun 1966 yang digantikan oleh pemerintahan Presiden Soeharto selama 32 tahun sejak 1966 hingga 1998.

Dan yang terakhir adalah era reformasi yang terjadi setelah jatuhnya Presiden Soeharto dan berlangsung hingga saat ini.

Pada saat era kolonial atau era masuknya bangsa Eropa, banyak orang-orang benua biru yang datang ke Indonesia dengan berbagai tujuan. Mulai dari mencari kekayaan alam hingga menyebarkan agama. Adapun beberapa bangsa Eropa yang datang ke Indonesia, yakni Portugis, Spanyol, Inggris, Perancis, dan Belanda.

Penjajahan Spanyol di Indonesia ini dimulai sejak kapal dagang Spanyol yang berhasil berlabuh di Maluku pada 8 November 1521 silam. Bangsa Spanyol berhasil masuk ke Nusantara setelah berlayar melalui Filipina, melewati Kalimantan Utara, dan tiba di Tidore.

Saat sampai di Tidore, bangsa Spanyol diterima dengan baik oleh masyarakatnya. Tetapi, karena Portugis telah lebih dahulu sampai di Tidore, mereka pun merasa terancam dengan kehadiran Spanyol dan berujung pada perselisihan dua bangsa Eropa tersebut. Pada akhirnya, Spanyol harus meninggalkan Tidore karena perjanjian yang sebelumnya telah disepakati.

Lantas, bagaimana penjajahan Spanyol di Indonesia yang sebenarnya? Untuk mengetahui penjelasan yang lebih mendalam, simak informasi berikut ini, yuk! Penjajahan Spanyol di Indonesia, awal mula, tiba di Indonesia, penyebab, dan tujuan Spanyol di Indonesia.

Dampak Masa Penjajahan Jepang di Indonesia

Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumber daya alam, sehingga beberapa negara seperti Belanda dan Jepang datang untuk mengeksploitasi sumber daya tersebut. Setelah penjajahan, negara yang pernah menjajah mengaku sebagai saudara dengan orang Indonesia. Misalnya Jepang yang menyebut diri sebagai saudara tua Indonesia (Hakko Ichiu).

Pada 11 Januari 1942, Jepang pertama kali datang ke Indonesia dan memilih Tarakan, Kalimantan Timur sebagai wilayah pertama yang dituju. Hal ini dikarenakan Jepang sangat membutuhkan suplai bahan bakar minyak setelah hubungannya dengan Amerika Serikat terputus dan mencari wilayah yang memiliki sumber bahan bakar minyak, salah satunya Indonesia.

Jepang mendarat di Tarakan, Kalimantan Timur yang pada saat itu dikuasai oleh Belanda. Pada awalnya, kedatangan Jepang ini disambut baik oleh rakyat Indonesia karena Jepang mengaku sebagai saudara tua dan menjanjikan untuk mengusir sekutu.

Rakyat Indonesia pun percaya dengan gerakan 3A (Jepang cahaya Asia, Jepang pemimpin Asia, dan Jepang pelindung Asia) yang diharapkan akan menjadi titik awal untuk melepaskan diri dari penjajahan.

Namun, kenyataannya sangat berbeda dari harapan. Gerakan 3A merupakan strategi Jepang untuk menguasai Indonesia dan melakukan eksploitasi sumber daya alam maupun sumber daya manusia. Selama 3,5 tahun, Jepang berhasil menguasai Indonesia dan meninggalkan sejarah yang kelam karena kekejaman yang dilakukan.

Rakyat Indonesia mengalami penderitaan selama pendudukan Jepang, seperti siksaan fisik, pendetensian tanpa alasan yang jelas, perbudakan seks, kerja paksa yang tidak manusiawi, dan banyak kerugian lainnya.

Karena masa penjajahan Jepang di Indonesia selama 3,5 tahun lamanya meninggalkan beberapa dampak mulai dari bidang ekonomi, sosial hingga politik. Berikut penjelasannya.

Pelayaran yang Dipimpin Ferdinand Magelhaens

Magellan atau Magelhaens adalah seseorang yang telah cukup lama bekerja di pemerintahan Spanyol yang juga merupakan keturunan Portugis. Sama halnya seperti Columbus, Magelhaens juga memiliki ambisi untuk mencari daerah penghasil rempah-rempah yang baru.

Pada akhirnya, Magelhaens pun berangkat dari Spanyol untuk melakukan ekspedisi di tanggal 10 Agustus 1519. Dia pergi bersama 165 awak kapal yang terbagi dalam 5 kapal berbeda.

Dalam ekspedisinya ini, Magelhaens dibantu oleh Kapten Juan Sebastian del Cano sebagai kapten dari kapal yang ditumpanginya itu. Dalam kapal tersebut juga terdapat seorang penulis dari Italia yang bernama Pigafetta. Kisah perjalanan Magelhaens ini pun kemudian ditulis oleh Pigafetta secara khusus.

Pelayaran Magelhaens bersama del Cano masih melanjutkan jalur dari ekspedisi Columbus. Mereka melalui Samudra Atlantik kemudian menuju ke arah barat hingga ke pantai timur Amerika Selatan. Setelah itu, mereka juga melanjutkan perjalanan ke ujung Benua Amerika dan melewati suatu selat yang mereka namai sebagai selat Magelhaens.

Pada 1521, Magelhaens melalui Samudra Pasifik dan sampai di sebuah pulau bernama Kepulauan Massava. Pulau ini pun kemudian berganti nama menjadi Filipina yang diambil dari nama Raja Spanyol pada waktu itu, Raja Philips III. Di daerah ini, Magelhaens juga membuat tugu peringatan sebagai tanda jika Filipina merupakan salah satu wilayah dari Spanyol.

Selain itu, Magelhaens juga menyebarkan agama di setiap daerah yang dia singgahi. Namun ternyata, penyebaran agama ini menimbulkan berbagai perlawanan di sebagian wilayahnya. Salah satu perlawanan atas penyebaran agama tersebut dilakukan oleh orang-orang Mactan yang mengakibatkan tewasnya Magelhaens di Filipina.

Akhirnya, orang-orang Spanyol yang tersisa pun harus meninggalkan Filipina untuk kembali berlayar ke daerah Selatan. Dengan dua kapal yang tersisa, yakni kapal Victoria dan kapal Trinidad, mereka berlabuh di Maluku setelah melewati Kalimantan Utara. Di Maluku ini, mereka akhirnya berhasil menemukan rempah-rempah.

Dampak di Bidang Sosial

Dalam bidang sosial, Jepang mengeluarkan beberapa kebijakan yang memberikan dampak pada kehidupan rakyat dan bangsa Indonesia. Dampak di bidang sosial yang disebabkan oleh Jepang antara lain adalah sebagai berikut:

Selama masa pendudukan Jepang, kebudayaan Barat dilarang masuk ke Indonesia. Salah satunya adalah penggunaan bahasa Belanda yang dilarang digunakan.

Untuk memenangkan simpati dari masyarakat Indonesia, Jepang membuat bahasa Indonesia menjadi bahasa resmi dalam pendidikan. Selain itu, sistem pendidikan yang diterapkan oleh Belanda juga dihapuskan dan diganti dengan sistem pendidikan Jepang yang bercirikan militerisme.

Jadi, selama masa pendudukan, siswa harus menyanyikan lagu kebangsaan Jepang, meletakkan bendera Jepang dan hormat kepada Kaisar Jepang.

Masa Pendudukan Jepang merupakan masa yang sangat kelam bagi rakyat Indonesia. Selain melakukan eksploitasi terhadap sumber daya alam, Jepang juga melakukan eksploitasi terhadap rakyat Indonesia dengan kebijakan Romusha dan Jugun Ianfu.

Para laki-laki dipaksa untuk melakukan kerja paksa tanpa imbalan yang berakibat banyak meninggal karena kelelahan. Sementara itu, para perempuan dipekerjakan sebagai perempuan penghibur (Jugun Ianfu) dan dipaksa untuk memuaskan nafsu para tentara Jepang.

Mengupas sejarah Bank Indonesia sebagai bank sentral di Indonesia sejak 1828, saat masih berstatus sebagai bank sirkulasi milik pemerintah kolonial Belanda dengan nama De Javasche Bank, yang kemudian dinasionalisasi dan diubah dengan nama Bank Indonesia.

Ketahui lebih jauh lagi seputar Bank Indonesia melalui buku Dari De Javasche Bank Menjadi Bank Indonesia, Fragmen Sejarah Bank Sentral di Indonesia

Dampak di Bidang Ekonomi

Selama masa pendudukan Jepang, sistem ekonomi di Indonesia berubah menjadi sistem ekonomi perang. Pemerintah militer Jepang mengatur, membatasi, dan menguasai faktor-faktor produksi.

Segala kegiatan ekonomi yang sebelumnya dikuasai oleh Belanda diambil alih oleh Jepang. Jepang juga melakukan beberapa kebijakan ekonomi yang memiliki dampak bagi bangsa Indonesia, seperti hal-hal berikut:

Dalam upaya untuk mengambil alih aset ekonomi, Jepang mengambil aset-aset yang ditinggalkan oleh Belanda, termasuk kebun-kebun, perbankan, pabrik-pabrik dan pertanian. Hal ini menyebabkan rakyat yang hidup di masa pendudukan Jepang mengalami kesulitan ekonomi dan kesengsaraan.

Kebijakan swasembada yang dilakukan oleh Jepang selama masa pendudukannya di Indonesia bertujuan untuk mengekang hubungan Indonesia dengan dunia luar.

Rakyat Indonesia dipaksa untuk memenuhi kebutuhannya sendiri sehingga tidak perlu mengimpor dari negara lain. Tujuan Jepang saat itu adalah agar Indonesia hanya menjadi tergantung pada Jepang saja.

Dalam upaya untuk mengumpulkan dana, Jepang mengimplementasikan kewajiban setoran pada masyarakat Indonesia.

Rakyat Indonesia diwajibkan untuk menyisihkan sebagian pendapatan mereka, yaitu sebesar 30% untuk pemerintah Jepang, 20% untuk lembaga desa, 40% untuk kebutuhan pribadi, dan sisanya untuk koperasi bersama yang dikelola oleh organisasi seperti Jawa Hokokai dan Nagyo Kumiai.

Namun, dalam kenyataannya, pemerintah Jepang juga mengambil sebagian dari bagian 40% yang seharusnya dimiliki oleh rakyat, sehingga banyak dari rakyat Indonesia yang hidup dalam kondisi menderita.

Keberadaan organisasi masyarakat atau ormas sebagai wujud kebebasan berserikat dan berkumpul merupakan elemen penting dalam kehidupan demokrasi. Dalam sejarah Indonesia, ormas memiliki peranan fundamental dalam mendorong perubahan sosial-politik masyarakat.

Buku Pembubaran Ormas: Sejarah dan Politik-Hukum di Indonesia (1945–2018) ini berisi tentang pembubaran organisasi masyarakat yang dilakukan oleh otoritas negara sebagai akibat dari aturan atau kebijakan yang menyebabkan hilangnya hak dan kewajiban subjek hukum bernama ormas.

Penyebab Spanyol Singgah di Indonesia

Penjajahan Spanyol di Indonesia bukan terjadi tanpa sebab. Pada sekitar abad ke-15 Masehi, bangsa Eropa sudah mulai berlomba dalam hal pelayaran untuk menemukan sebuah dunia yang baru. Tujuan utama dari pelayaran mencari daratan atau daerah yang baru itu adalah untuk menemukan wilayah yang menghasilkan rempah-rempah.

Di Eropa rempah-rempah adalah komoditas utama yang memiliki nilai yang tinggi. Terlebih fungsi utama rempah-rempah tersebut adalah sebagai bahan untuk mengawetkan makanan. Pasalnya, pengawetan makanan menjadi penting untuk masyarakat Eropa guna mencegah kelaparan yang mungkin akan terjadi saat musim dingin berlangsung.

Penjelajahan dan ekspedisi yang dilakukan oleh orang Eropa termasuk Spanyol ini setidaknya disebabkan oleh 2 peristiwa politik yang penting. Peristiwa tersebut adalah kekalahan kerajaan Katolik saat Perang Salib dan jatuhnya Konstantinopel kepada kekaisaran Turki Usmani.

Saat terjadi Perang Salib, jalur perdagangan antara Eropa dan Asia juga menjadi berantakan karena perang yang terjadi di perbatasan dua benua tersebut. Selain itu, keadaan ekonomi Eropa pun terpuruk karena adanya perang tersebut. Kas kerajaan Eropa menjadi menyusut karena besarnya biaya perang yang harus dikeluarkan.

Dua abad setelah perang itu selesai, kota Konstantinopel (sekarang menjadi Istanbul) jatuh ke tangan imperium Turki Usmani Ottoman. Hal ini pun tentu saja menjadi kabar yang buruk bagi kerajaan-kerajaan Eropa. Sebab, kota Konstantinopel tersebut menjadi titik penting dalam rute perdagangan antar benua Eropa dan Asia.

Jatuhnya kota Konstantinopel ini menjadi salah satu faktor utama dari terjadinya pelayaran bangsa Eropa ke benua lain termasuk Asia dan Indonesia. Pasalnya, semenjak Konstantinopel dikuasai oleh Turki Usmani, masyarakat Eropa menjadi kesulitan untuk mencari jalan atau akses perdagangan ke Asia. Kaisar Turki Usmani, Sultan Muhammad II, juga melarang pedagang Eropa untuk masuk ke kota Konstantinopel.

Padahal kota tersebut menjadi pintu masuk utama perdagangan Eropa dengan orang Asia, khususnya para pedagang rempah-rempah. Hal itulah yang menyebabkan Eropa mengerahkan pelautnya untuk berlayar dan mencari jalur perdagangan baru sekaligus menemukan daerah penghasil rempah-rempah.

Dari negara-negara Eropa tersebut, Spanyol dan Portugis menjadi salah satu negara yang sangat aktif dalam merintis pelayaran dan melakukan ekspedisi dalam menemukan dunia baru itu. Tetapi, keduanya sempat berselisih dalam jalur pelayaran yang akan dilalui.

Pada 7 Juni 1449, akhirnya disepakati Perjanjian Tordesillas oleh Spanyol dan Portugis. Perjanjian tersebut berisi tentang dibaginya dunia menjadi dua wilayah kekuasaan untuk Spanyol dan Portugis. Wilayah tersebut dibagi berdasarkan garis yang membentang dari Kutub Selatan ke Kutub Utara.

Penjajahan Spanyol di Indonesia dimulai saat mereka berhasil menginjakkan kakinya di Tidore, Maluku. Saat itu, Spanyol singgah di Maluku setelah berlayar dari Filipina ke arah selatan melewati Kalimantan Utara.

Kedatangan bangsa Spanyol di Indonesia ini disambut baik oleh masyarakat Tidore. Tetapi, mereka justru menjadi ancaman bagi Portugis yang sudah lebih dahulu menduduki wilayah Maluku. Perselisihan antara dua bangsa Eropa itu pun tak dapat dihindari, bahkan keduanya sempat terlibat perang dengan memanfaatkan permusuhan yang terjadi pada kerajaan lokal, Ternate dan Tidore.

Untuk mengakhiri perselisihan tersebut, akhirnya dibuat kesepakatan antara Spanyol dan Portugal melalui sebuah perjanjian bernama perjanjian Saragosa. Dari perjanjian ini, akhirnya Spanyol pergi dari Maluku dan Portugis dapat terus menetap di Maluku. Dengan perginya Spanyol dari Maluku, berakhir juga penjajahan Spanyol di Indonesia.

Itulah tadi pembahasan mengenai penjajahan spanyol di Indonesia. Mulai dari awal mula, tujuan, penyebab, hingga akhirnya Spanyol tiba di Indonesia. Semoga bermanfaat untuk membantu #SahabatTanpaBatas belajar, ya!

Jika kamu ingin mencari berbagai macam buku tentang sejarah, maka bisa mendapatkannya di gramedia.com. Untuk mendukung Grameds dalam menambah wawasan, Gramedia selalu menyediakan buku-buku berkualitas dan original agar Grameds memiliki informasi #LebihDenganMembaca.

Kembali ke : Halaman Utama

Kita sudah belajar mengenai Sejarah Kedatangan Bangsa-bangsa Eropa di Indonesia. Selanjutnya kita akan mempelajari sejarah penjajahan yang dilakukan oleh bangsa-bangsa Eropa di Nusantara.

Penjajahan bangsa Eropa dapat dibagi dalam beberapa masa sebagai berikut :

1.  Masa Kekuasaan VOC (1602 – 1799) 2.  Masa Hindia Belanda di bawah Pemerintahan Belanda-Prancis  (1800 – 1811), walaupun sebenarnya Prancis baru memerintah pada tahun 1806. 3.  Masa Pendudukan Kerajaan Inggris (1811 – 1816) 4.  Masa Hindia Belanda di bawah Pemerintahan Kerajaan Belanda (1816 – 1924)

Baca juga : Faktor-faktor Penyebab Kedatangan Bangsa Eropa di Indonesia

Bentuk Propaganda Jepang di Indonesia

Setelah Jepang secara resmi mengendalikan Indonesia pada tanggal 8 Maret 1942, mereka mulai menyusun pemerintahan untuk menjamin pendudukannya di sana. Selain itu, Jepang juga melakukan berbagai aksi propaganda untuk menarik simpati dari rakyat Indonesia.

Salah satu propaganda yang dilakukan oleh Jepang adalah membentuk Gerakan 3A yaitu Nippon Pemimpin Asia, Nippon Pelindung Asia, dan Nippon Cahaya Asia. Menurut Abdul Salam dalam buku Menudju Kemerdekaan (1964), gerakan ini dibuat oleh Jepang untuk membantu upaya perang mereka melawan Sekutu dalam Perang Dunia Kedua.

Selain Gerakan 3A, pemerintah militer Jepang juga menyebarkan berbagai propaganda lainnya dan membentuk berbagai organisasi yang melibatkan orang-orang Indonesia, seperti Pembela Tanah Air (PETA), Heiho, Seinendan, Keibodan, Barisan Pelopor, dan masih banyak lagi.

Selama masa pendudukan Jepang, rakyat Indonesia mengalami banyak kesengsaraan dan kerugian. Jepang mengeksploitasi sumber daya alam dan mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang kejam seperti kerja paksa Romusha dan Jugun Ianfu.

Selama 4,5 tahun, kehidupan masyarakat Indonesia dan sumber daya alam di Indonesia dikuras demi kepentingan perang Jepang. Namun, pada akhirnya, Jepang mengalami kekalahan dan menyerah kepada Sekutu, yang memberikan kesempatan bagi Indonesia untuk menyatakan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.

Demikianlah pembahasan mengenai masa penjajahan Jepang di Indonesia, latar belakang masuknya Jepang, dampak yang disebabkan oleh Jepang pada rakyat Indonesia dan macam-macam propaganda yang dibentuk oleh Jepang demi memenangkan hati masyarakat Indonesia.

Pelajari lebih lanjut tentang sejarah Indonesia, mulai dari masa penjajahan hingga kemerdekaan dengan membaca buku sejarah Indonesia. Sebagai #SahabatTanpaBatas, gramedia.com selalu menyediakan berbagai macam buku berkualitas dan tentu saja dijamin original untuk Grameds. Jadi jangan ragu untuk membeli buku dari penulis favorit Grameds di gramedia.com!

Membaca banyak buku dan artikel tidak akan pernah merugikan kalian, karena Grameds akan mendapatkan informasi dan pengetahuan #LebihDenganMembaca.

Masa Penjajahan Jepang – Masa pendudukan Jepang di wilayah Nusantara (saat itu masih dikenal dengan nama Hindia Belanda) dimulai pada tahun 1942 dan berakhir pada tanggal 17 Agustus 1945 ketika Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dilakukan oleh Soekarno dan M. Hatta.

Pada bulan Mei 1940, saat awal Perang Dunia II, Belanda dikuasai oleh Jerman Nazi. Indonesia mengumumkan  keadaan siaga serta mengalihkan ekspor untuk Kekaisaran Jepang ke Amerika Serikat serta Inggris.

Negosiasi untuk mengamankan persediaan bahan bakar pesawat dengan Jepang gagal pada bulan Juni 1941 dan Jepang mulai menaklukkan hampir seluruh wilayah Asia Tenggara pada bulan Desember tahun itu.

Pada bulan yang sama, faksi dari Sumatra menerima bantuan dari Jepang untuk melakukan revolusi terhadap pemerintah Belanda. Sementara itu, pasukan Belanda terakhir yang dikalahkan oleh Jepang adalah pada Maret 1942. Masa penjajahan Jepang di Indonesia pun dimulai. Bagaimana permulaan dan sejarahnya?

Latar Belakang Jepang Datang ke Indonesia

Orang-orang Jepang sebenarnya sudah mulai masuk ke Indonesia sebelum Belanda menyerahkan wilayah tersebut pada tahun 1942.

Pada tahun 1937, dunia mengalami krisis ekonomi yang sangat parah. Namun, Jepang berhasil mengantisipasi dampak buruk dari resesi global tersebut. Menurut Onghokham dalam bukunya “Runtuhnya Hindia Belanda” (1987:30), Jepang adalah salah satu negara yang mampu selamat dari krisis moneter dunia.

Hal ini berbeda dengan Hindia Belanda yang saat itu sedang mengalami masalah ekonomi yang semakin parah. Karena situasi ekonomi yang buruk di Hindia Belanda, Jepang mampu masuk ke wilayah tersebut pada tahun 1938-1939 untuk berinvestasi pada pemerintah Hindia Belanda.

Selain itu, Jepang adalah salah satu negara utama yang menjadi tujuan ekspor komoditas dari Hindia Belanda yang didapatkan kekayaan alamnya di Nusantara.

Pada saat itu, Jepang menjadi pesaing negara-negara Eropa dalam perebutan pasar ekonomi, yang membuat mereka mampu masuk ke Indonesia pada tahun 1938-1939 untuk berinvestasi pada pemerintah Hindia Belanda.

Jepang masuk ke Indonesia dimulai pada bulan Oktober tahun 1941, Jenderal Hideki Tojo menggantikan jabatan Konoe Fumimaro sebagai Perdana Menteri Jepang.

Meskipun pada akhir tahun 1940, pimpinan militer Jepang tidak ingin melawan beberapa negara sekaligus, namun pada pertengahan tahun 1941 mereka menyadari bahwa untuk menguasai sumber daya alam di Asia Tenggara, mereka harus menghadapi Amerika Serikat, Inggris, dan Belanda sekaligus.

Hal ini semakin diperparah dengan embargo minyak bumi yang dilancarkan oleh Amerika yang sangat dibutuhkan oleh industri di Jepang dan keperluan perang.

Laksamana Isoroku Yamamoto, yaitu Panglima dari Angkatan Laut Jepang, membuat sebuah strategi perang yang agresif, yaitu dengan mengerahkan seluruh kekuatan armadanya untuk dua operasi besar.

Kekuatan pertama, yang terdiri dari 6 kapal induk, 2 kapal perang, 11 kapal perusak, dan lebih dari 1.400 pesawat tempur, akan menyerang secara mendadak basis Armada Pasifik Amerika Serikat di Pearl Harbor, Hawaii pada 7 Desember 1941.

Sementara itu, kekuatan kedua, yang terdiri dari sisa kekuatan Angkatan Laut Jepang, akan mendukung Angkatan Darat dalam Operasi Selatan, yaitu penyerangan atas Filipina, Malaya dan Singapura, yang kemudian dilanjutkan ke Jawa. Seluruh operasi direncanakan selesai dalam waktu 150 hari dengan Admiral Chuichi Nagumo sebagai pemimpin armada yang ditugaskan menyerang Pearl Harbor.

Pada 8 Desember tahun 1941, Kongres Amerika Serikat menyatakan perang pada Jepang. Kemudian  tiga hari setelahnya, Jerman menyatakan perang pada Amerika Serikat.

Hal ini menyebabkan Amerika Serikat bergabung dengan pasukan Sekutu dan terlibat dalam pertempuran di Eropa dan Asia Pasifik. Perang Pasifik ini juga berdampak besar pada perjuangan kemerdekaan negara-negara di Asia Timur, termasuk Indonesia.

Tujuan Jepang menyerang dan menduduki Hindia Belanda adalah untuk mendapatkan sumber daya alam, terutama minyak bumi, untuk mendukung potensi perang dan industri mereka. Pulau Jawa direncanakan sebagai pusat dukungan untuk operasi militer di Asia Tenggara, serta Sumatra sebagai sumber minyak utama.

Jepang kemudian masuk ke Indonesia dan berhasil menduduki Tarakan yang kemudian diikuti pula dengan menguasai beberapa wilayah lain seperti Pontianak, Balipakakn pada 29 Januari dan 24 Januari tahun 1942.

Selanjutnya, pada 3 Februari 1942 dan 10 Februari 1942, Jepang berhasil mengambil alih Samarinda dan Banjarmasin dari Belanda. Setelah menguasai Kalimantan dan Maluku, pasukan Jepang melanjutkan ekspansi ke wilayah Sumatera.

Pada tanggal 14 Februari 1942, Jepang mengerahkan pasukan untuk menduduki Sumatera. Dua hari kemudian, tepatnya pada tanggal 16 Februari 1942, Palembang dan sekitarnya berhasil diduduki. Keberhasilan ini membuat Jepang semakin bertekad untuk menguasai Jawa.

Jepang menduduki daerah Teluk Banten di Jawa Barat serta wilayah Kragan di Jawa Tengah pada awal bulan Maret tahun 1942. Akhirnya, Batavia (Jakarta) yang menjadi pusat pemerintahan kolonial Hindia Belanda direbut pada tanggal 5 Maret 1942, diikuti dengan keberhasilan mereka mengambil alih Bandung dua hari kemudian.

Pada tanggal 8 Maret 1942, Belanda dan Jepang bertemu di Kalijati, dekat Subang, Jawa Barat untuk melakukan perundingan. Dalam pertemuan tersebut, Belanda setuju untuk menyerah tanpa syarat kepada Jepang.

Pada waktu yang sama, Gubernur Jenderal dari Hindia Belanda yaitu Tjarda van Starkenborgh Stachouwer dan Letnan Jenderal Heindrik Ter Poorten, yang merupakan Komandan Angkatan Perang Belanda di Jawa, menyerahkan kekuasaannya atas wilayah Indonesia pada Jenderal Hitoshi Imamura sebagai wakil delegasi dari Dai Nippon.

Sejak saat itu, wilayah Indonesia berada di bawah pendudukan militer Jepang sampai Jepang kalah dalam Perang Asia Timur Raya, yang memungkinkan Indonesia untuk memproklamasikan kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Masa Penjajahan Jepang – Masa pendudukan Jepang di wilayah Nusantara (saat itu masih dikenal dengan nama Hindia Belanda) dimulai pada tahun 1942 dan berakhir pada tanggal 17 Agustus 1945 ketika Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dilakukan oleh Soekarno dan M. Hatta.

Pada bulan Mei 1940, saat awal Perang Dunia II, Belanda dikuasai oleh Jerman Nazi. Indonesia mengumumkan  keadaan siaga serta mengalihkan ekspor untuk Kekaisaran Jepang ke Amerika Serikat serta Inggris.

Negosiasi untuk mengamankan persediaan bahan bakar pesawat dengan Jepang gagal pada bulan Juni 1941 dan Jepang mulai menaklukkan hampir seluruh wilayah Asia Tenggara pada bulan Desember tahun itu.

Pada bulan yang sama, faksi dari Sumatra menerima bantuan dari Jepang untuk melakukan revolusi terhadap pemerintah Belanda. Sementara itu, pasukan Belanda terakhir yang dikalahkan oleh Jepang adalah pada Maret 1942. Masa penjajahan Jepang di Indonesia pun dimulai. Bagaimana permulaan dan sejarahnya?

Tujuan dari Kedatangan Spanyol di Indonesia

Penjajahan Spanyol di Indonesia pertama kali dimulai pada 8 November 1521 ketika Spanyol berhasil menginjakkan kakinya di tanah Tidore. Dipimpin oleh Kapten del Cano, kedatangan dari Spanyol ini pun memiliki tujuannya tersendiri. Mereka berkeinginan untuk mewujudkan semangat mimpi 3G, yakni gold, glory, gospel. Pengertian dari 3G tersebut adalah sebagai berikut:

Gold adalah semangat yang dimiliki bangsa Spanyol untuk mencari emas atau kekayaan. Mereka juga mewujudkan mimpi ini dengan melakukan perdagangan rempah-rempah yang merupakan komoditas utama dan memiliki harga yang tinggi.

Glory adalah semangat guna mengharumkan nama, kekuasaan, dan kejayaan dari daerah jajahannya. Oleh karena itu, mereka juga berkeinginan untuk menguasai dan menduduki wilayah yang pernah disinggahi.

Gospel adalah semangat untuk menyebarkan agama Katolik sebagai tugas suci dari agama mereka. Sehingga tak heran jika mereka juga menyebarkan kepercayaan mereka pada setiap daerah-daerah yang disinggahinya.